Tiba-tiba
saya teringat tentang sebuah ungkapan yang sering diucapkan oleh salah seorang
sahabat saya bahwa” sesuatu itu akan terasa keberadaannya jika ia tak lagi
bersama kita”. Ini tidak hanya berlaku pada sesuatu tetapi juga pada orang-orang
disekililing kita. Saya yakin kita tidak akan pernah siap jika suatu saat nanti
orang yang kita sayang, kita benci bahkan orang yang tidak pernah kita anggap
keberadaaannya akan pergi jauh dari kita atau bahkan kembali kepada Yang maha
Kuasa. Perlu waktu yang lama untuk membiasakan diri dan menyadarkan hati bahwa
mereka tak lagi bersama kita. Disitulah kita baru mengerti bahwa kita terlalu
angkuh, meremehkan bahkan menganggap mereka tak pernah ada buat kita dan kita
juga baru tahu bahwa mereka yang selalu memberikan kita dukungan, menguatkan
kita dikala susah, dan tersenyum bahagia ketika kita gembira.
Sesal memang
selalu datang diakhir cerita. Bahkan kita mengutuk diri sendiri bahkan
menghujat Tuhan mengapa orang yang kita sayangi harus pergi meninggalkan kita. Kita
larut dalam kesedihan yang mendalam dan bahkan seakan tak percaya kalau mereka
telah jauh dari kita. Mungkin jika jauh yang saya maksudkan disini adalah jauh
dalam artian jarak misalnya jauh dengan orang tua ketika kita pergi merantau atau
ketika sahabat terbaik kita melanjutkan studi nya keluar kota atau negeri, itu
sedikit lain ceritanya karena kita masih bisa berkomunikasi dengan mereka untuk
sekadar melepas rindu. Tapi jika jauh disini adalah jauh karena sudah
berbedanya alam (alam dunia dan alam barzah), bagi saya pribadi saya sedikit
sulit menerima orang terdekat saya telah berpulang kepadaNYA. Bukan sulit dalam
artian sampai harus menghujat Tuhan, tetapi saya masih menganggap orang
tersebut masih bersama saya. Hal ini terjadi ketika dua tahun yang lalu abang
sepupu saya meninggalkan kami semua. Secara emosional saya sangat dekat dengan
beliau karena saya tidak mempunyai abang. Jadi ketika saya menerima kabar
beliau telah tiada dan saya orang pertama yang melihat TKP beliau meninggal,
rasanya nyesek banget. Saya sangat menyesal kenapa dalam minggu terakhir
sebelum beliau meninggal saya tidak pernah bisa menemui beliau dengan berbagai
alasan, juga saya menyadari bahwa beliau selalu ada membantu saya.
Begitu pula dengan saat ini, ketika kami semua
telah wisuda. Saya merasa ada yang hilang dari keseharian saya. Beberapa bulan
yang lalu kami sering berkumpul dengan teman-teman seperskripsian untuk
menyelesaikan tugas akhir kami. Sekarang masing-masing telah sibuk dengan
aktifitasnya. Tak dapat dipungkiri bahwa sering rindu itu berbisik tapi hidup
tidak hanya berhenti di situ saja kan. So, saya harus membiasakan diri lagi
dengan kebiasaan-kebiasaan baru dan lebih menghargai apa yang saya miliki
sekarang baik itu berupa benda, teman-teman yang hebat dan keluarga yang selalu
ada bagi saya. :)


0 comments:
Post a Comment