Kita diberi karena kita mampu, kita belum diberi karena kita belum mampu



                Kalimat diatas saya dapatkan ketika mengikuti sebuah seminar bertema “Jelajahi dunia Autis dan penanganannya”. Bagi saya kalimat tersebut memiliki makna yang sangat luas dan sangat dalam. Ia tidak hanya diaplikasikan oleh orang tua yang memiliki anak autis atau guru yang memiliki murid autis tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari kita terhadap masalah yang kita punya dan mimpi yang kita harapkan. Narasumber di seminar itu menjelaskan bahwa orang tua atau guru yang memiliki anak atau murid yang autis itu merupakan orang yang telah dipilih Allah karena mereka pasti mampu mendidik anak dan murid mereka menjadi seperti orang normal lainnya. Anak-anak itu jangan dianggap sebagai beban tapi anggaplah mereka sebagai “special gift” yang diamanahkan kepada kita karena kita adalah orang-orang terpilih yang diberi kesempatan untuk mendidik anak-anak special itu.
                Jadi apa hubungannya kalimat judul diatas dengan kehidupan sehari-hari kita?. Erat sekali hubungannya kawan. Bagaimana tidak kita sering mengabaikan anugerah yang telah diberikan kepada kita dan mengharap sesuatu yang lebih hebat seperti orang lain lakukan. Kita tidak pernah mencoba memposisikan diri ketika kita diposisi orang tersebut, apakah kita mampu melakukannya?. Bukannya kita tidak mampu tapi kita belum memampukan diri untuk melakukan atau menerima hal tersebut. Saya teringat sebuah pengalaman yang saya alami empat tahun lalu (pernah saya ceritakan di satu tulisan saya “rencana oh rencana”), dimana orang tua saya sangat mengharapkan saya untuk masuk di jurusan yang paling bergengsi pilihan sejuta umat. Yeah...kawan pasti tahu jurusan apakah itu :). Pada kasus saya ini saya merasa sudah memampukan diri untuk masuk di jurusan itu sampai saya dua tahun berturut-turut mengikuti ujian masuknya. Tapi memang Allah tidak akan memberikan sesuatu yang hambanya tidak sanggup menjalakannya. Saya tidak berjodoh dengan jurusan tersebut hingga saya mendapatkan gelar S.Pd.I sekarang ini. Apakah saya kecewa?, pasti kawan!. Bagaimana tidak kecewa pada diri ini ketika kita tidak mampu memenuhi apa yang orang tua tercinta kita harapkan. Tapi apa hendak dikata yang lalu biarlah berlalu. Dan sekarang saya baru menyadari ketika saya melihat bagaimana teman-teman hebat saya yang belajar di jurusan tersebut, jika lah Allah memberikan kesempatan saya untuk belajar di jurusan tersebut pastilah saya akan berhenti di tengah jalan karena saya merasa saya tidak memiliki kemampuan setinggi itu dan adik-adik saya dipastikan tidak bisa melanjutkan kuliah karena biaya studi di jurusan itu saja setara dengan pendidikan S2 :).
                Well...begitu juga dengan mimpi-mimpi yang kita harapkan. Maka mampukanlah diri kita untuk meraih apa yang kita mimpikan. Jika Allah belum memberikan kesempatan, jangan lah berkecil hati karena pada dasarnya Allah sayang kepada hambanya dan DIA tidak ingin hambanya memikul sesuatu yang tidak sesuai dengan kapasitasnya. :)
               

0 comments:

Post a Comment

 
El Rocío del Alma Blog Design by Ipietoon