Hari ini sangat cerah bukan untuk mengawali sebuah hari yang penuh rahasia. Mengapa demikian? Yeah karena kita belum tahu apa yang akan terjadi sedetik, semenit bahkan sejam kemudian. Ingatkah kalian pada prinsip dasar yang sering kita dengar dari teman, sahabat, orang tua bahkan mungkin saja pak tua yang sering berkicau tak jelas di perempatan jalan itu?. Sebuah prinsip dasar yang kira-kira bunyinya seperti ini “ Man proposes, God disposes” ah.. mungkin kalian akan menganggap aku berbual mana mungkin pak tua itu mengeluarkan kata-kata dalam bahasanya Andrew Garfield..(kalian tahu siapa Andrew Garfield?,,, tnyakan saja pada paman serba tahu alias paman google ). Oke, kembali lg ke topic awal, baiklah mungkin kalian sedang malas untuk membuka laptop atau tablet kalian dan mencari siapa Andrew Garfield yang pada intinya sangat-sangat tidak penting itu. Tenang saja kawan aku sedang berbaik hati memberikan jawaban atas kebingungan kalian terhadap kata-kata prinsip dasar tersebut, Man proposes, God disposes artinya manusia hanya bisa merencanakan dan Tuhan lah yang menentukan segalanya.
Kalimat sederhana ini perlu kita pahami baik-baik. Karena kita sering mengeluh jika apa yang kita rencanakan tidak berjalan semestinya. Padahal dibalik semua kejadian itu masih ada yang Maha Pengatur sgeala urusan yaitu Tuhan. Jadi ketika sesuatu yang kita rencanakan jauh hari tidak terjadi sesuai dengan apa yang kita inginkan, percayalah Tuhan telah menyiapkan sesuatu yang terbaik bagi kita. Meski itu kita anggap sebagai suatu musibah atau kegagalan, lihatlah dari kacamata yang bijak maka akan kita temukan suatu hikmah kehidupan yang luar biasa.
Saya punya sebuah pengalaman yang mungkin bisa kita ambil hikmahnya bersama. Saya yakin dahulu ketika kita masih di Taman Kanak-kanak, kita semua pasti memiliki cita-cita. Sebagian besar anak perempuan pasti mengingimkan menjadi dokter dan laki-laki pasti menginginkan menjadi pilot atau polisi. Entahlah apa yang membuat ketiga profesi ini menjadi idaman anak-anak pada masa itu mungkin sampai hari ini ketika menanyakan kepada anak-anak PAUD itu apa cita-cita mereka, pasti tidak jauh-jauh dari ketiga profesi itu.
Dunia selalu berputar, seiring berjalannya waktu dan dunia semakin berkembang juga nasib manusia tidak ada yang mampu menebaknya. Cita-cita masa lalu menjadi sebuah momok tersendiri ketika kenyataan menghadang jalan kita menuju cita-cita tersebut. Sekali lagi saya yakin, teman-teman semua pasti pernah merasakannya ketika diri tak mampu menembus blockade kenyataan untuk menuju sebuah mimpi yang sebntar lagi akan menjadi realita. Yeah… saya juga merasakannya. Ketika semua mimpi dan rencana telah kita atur untuk menggapai cita-cita itu kandas begitu saja. Tepat sekali saya gagal menggapai impian saya untuk menjadi seorang dokter seperti yang saya dan keluarga harapkan.
Terus apakah saya kecewa? Tentu saja… sampai hari ini saya masih sangat kecewa. Tapi lagi-lagi saya harus menyadari bahwa apa yang saya jalani sekarang ini merupakan yang terbaik yang Tuhan anugerahkan kepada saya. Ketika kita depresi atas apa yang menimpa kita, cobalah untuk melihat sisi lain dari masalah tersebut. Pada kasus saya sekarang ini, banyak sekali hal-hal istimewa yang mungkin tidak akan saya dapatkan jika saya masuk kedokteran. Bertemu dengan teman-teman yang sampai hari ini masih selalu setia bersama, merasakan pengalaman-pengalaman baru dan mungkin jika saya masuk kedokteran saya tidak akan mampu mengikuti ritme belajar mereka yang memang style-style anak rajin belajar pastinya itu akan sangat mengecewakan org tua saya.
Mau tidak mau kita harus menerima apa yang telah kita dapatkan selama ini, suka atau tidak kita wajib menjalaninya dengan sepenuh hati karena terkadang kenyataan begitu sadis memporak porandakan segala cara kita dalam menggapi cita-cita.
Singkat cerita, janganlah kita terlalu sombong dalam merencanakan sesuatu, karena ada kekuatan lain yang lebih hebat dari pada kita. Bisa jadi kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan karena bukan itu yang kita butuhkan. Kembali ke prinsip dasar, tentukan arah dan slalu berdo’a. Allah bersama orang-orang yang bertaqwa
Saya punya sebuah pengalaman yang mungkin bisa kita ambil hikmahnya bersama. Saya yakin dahulu ketika kita masih di Taman Kanak-kanak, kita semua pasti memiliki cita-cita. Sebagian besar anak perempuan pasti mengingimkan menjadi dokter dan laki-laki pasti menginginkan menjadi pilot atau polisi. Entahlah apa yang membuat ketiga profesi ini menjadi idaman anak-anak pada masa itu mungkin sampai hari ini ketika menanyakan kepada anak-anak PAUD itu apa cita-cita mereka, pasti tidak jauh-jauh dari ketiga profesi itu.
Dunia selalu berputar, seiring berjalannya waktu dan dunia semakin berkembang juga nasib manusia tidak ada yang mampu menebaknya. Cita-cita masa lalu menjadi sebuah momok tersendiri ketika kenyataan menghadang jalan kita menuju cita-cita tersebut. Sekali lagi saya yakin, teman-teman semua pasti pernah merasakannya ketika diri tak mampu menembus blockade kenyataan untuk menuju sebuah mimpi yang sebntar lagi akan menjadi realita. Yeah… saya juga merasakannya. Ketika semua mimpi dan rencana telah kita atur untuk menggapai cita-cita itu kandas begitu saja. Tepat sekali saya gagal menggapai impian saya untuk menjadi seorang dokter seperti yang saya dan keluarga harapkan.
Terus apakah saya kecewa? Tentu saja… sampai hari ini saya masih sangat kecewa. Tapi lagi-lagi saya harus menyadari bahwa apa yang saya jalani sekarang ini merupakan yang terbaik yang Tuhan anugerahkan kepada saya. Ketika kita depresi atas apa yang menimpa kita, cobalah untuk melihat sisi lain dari masalah tersebut. Pada kasus saya sekarang ini, banyak sekali hal-hal istimewa yang mungkin tidak akan saya dapatkan jika saya masuk kedokteran. Bertemu dengan teman-teman yang sampai hari ini masih selalu setia bersama, merasakan pengalaman-pengalaman baru dan mungkin jika saya masuk kedokteran saya tidak akan mampu mengikuti ritme belajar mereka yang memang style-style anak rajin belajar pastinya itu akan sangat mengecewakan org tua saya.
Mau tidak mau kita harus menerima apa yang telah kita dapatkan selama ini, suka atau tidak kita wajib menjalaninya dengan sepenuh hati karena terkadang kenyataan begitu sadis memporak porandakan segala cara kita dalam menggapi cita-cita.
Singkat cerita, janganlah kita terlalu sombong dalam merencanakan sesuatu, karena ada kekuatan lain yang lebih hebat dari pada kita. Bisa jadi kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan karena bukan itu yang kita butuhkan. Kembali ke prinsip dasar, tentukan arah dan slalu berdo’a. Allah bersama orang-orang yang bertaqwa

